Ini adalah satu unit saya di ITB yang masih bertahan sampai sekarang, tadinya sempat mencicip Taekwondo ITB, Kokesma ITB, PSTK ITB, MBWG ITB, PERSMA, dan HATI. Tapi yang bisa bertahan sampai sekarang Cuma menwa sama Gamais (kewajiban sih kalo ini). Gak bisa ninggalin Menwa euy,,, berat banget rasanya.. pertama kali ikut unit ini sih diajak temen SMA, kebetulan dia baru lulus diklatsar Menwa, trus tiap ngobrol selalu negomongin Menwa, trus ditantang masuk Batalyon I/ITB, coba2 eh ternyata susah untuk keluar lagi… dan banyak banget hal yang aku dapatkan dari sini. Mantabh lah pokoknya baik yang susah maupun yang sanagt menyenangkan, pembelajaran hidup yang cukup lengkap.
oke, langsung aja kamu baca!
pembentukan Batalyon I/ITB
Batalyon I/ITB Resimen MAhasiswa Mahawarman merupakan menwa tertua dan pelopor bagi berdirnya Menwa di tanah air, yang didirikan pada tanggal 20 maret 1965 berdasrkan surat keputusan Gubernur jawabarat No. KPTS 02/I/A/VIII/1965 dan keputusan menko HAnkam/Kasab No. M/B/86/64. Dengn Komandan pertama Harjanto Dhanutirto (yang saat ini menjabat sebagi ketua Majelis Wali Amanat ITB). Cikal bakalnya dimulai dari 450 orang, batalyon wala ini (tebentuk pada 13 Juni 1959) dibentuk untuk menghadapi pemberontakan DI/TII KArtosuwiryo di Jawa Barat. Berdasarkan surat keputusan Menko Hankam/Kasab dan Mentri PTIP tahun 1962 wala diubah menjadi Resimen Mahasiswa Serbaguna yang dipersiapkan untuk menghadapi pembebasan Irian Barat dan konfrontasi denagn Malaysia. Kemudian Pada tahun 1965 berubah nama menjadi Resimen Mahasiswa Mahawarman.
Batalyon I/ITB di masa perang
Pada masa G30S/PKI, keberadaan resimen Mahasiswa Khususnya Batalyon I/ITB sangat efektif untuk menumpas sisa-sisa PKI. Salah satu peristiwa yang selalu diingat oleh seluruh anggota Batalyon I/ITB adalah peristiwa 19 Agustus 1966 yaitu ketika dua kompi batalyon I/ITB dengan senjata lengkap, menghadapi massa yang mengamuk dan menamakan dirinya “barisan sukarno”, yang terang-terangn ingin memberangus kampus ITB, pada peristiwa ini gugur seorang anggota Resimen Mahasiswa. Atas peristiwa ini Batalyon I?ITB mendapatkan cincin kehormatan yang langsung disematkan oleh pangdam siliwangi pada saat itu (Mayjen TNI H.R. Darsono) ke tunggul Batalyon I/ITB. Pada upacara tersebut Rektor ITB menyematkan rumbai berwarna merah pada tunggul sebagai tanda terimakasih almamater kepada Batalyon I/ITB.
Pada saat terjadi pendudukan kampus pada peristiwa NKK BKK tahun 1978, Rektor ITB yang ketika itu diwakilkan kepada Pak Wiranto Arismunandar maminta Batalyon I/ITB lewat surat perintah Rektor ITB No. 006/Rek/78 memnita untuk melaksanakan normalisasi kampus serta mengambil alih kampus secara halus dari tanan militer, serta melakukan pengamanan terhadap seluruh fasilitas kampus, serta membimbing mahasiswa baru memasuki kehidupan kampus.
Batalyon I/ITB saat ini
Pada saat ini batalyon I/ITB tidak lagi mengalami manghadapi ancaman dalam bentuk fisik dan kekuatan senjata. Pada masa ini pemerintah juga sepertinay tidak ingin melibatkan menwa dalam konflik besenjata selain sebagai rakyat terlatih yang secara tidak langsung menjaga stabilitas diamnapun kita berada tanpa melalui kekuatan senjata, melainkan dengan perilaku dan tindakan kita. Pada masa sekarang justru yang banyak terjadi adalah konflik horizontal antar kelompok masyarakat yang berbau SARA.
Visi yang dianut oleh Batalyon I/ITB harus berfungsi sebagai “Resimen Tempur” namun dalam kondisi damai (stabil) Batalyon I/ITB harus berfungsi sebagi “Resiman Pendidikan.”
Visi ini yang sekarang ini menjadi pegangan bagi pembinaan di Batalyon I/ITB, istilah resimen pendidikan berarti Resiemn Mahasiswa sebagai wadah dalam belajar tentang bela Negara, nilai-nilai keprajuritan , latihan jadi pengikut, latihan kepemimpinan, dan tempat pengembangan organisasi bagi tiap anggotanya. Batalyon I/ITB juga berperan sebagai “Pengawal Almamater” yaitu berfungsi untuk membantu kelancaran terselenggaranya program perguruan tinggi sesuai dengan tridharma perguruan tinggi, dan membantu acara-acara yang dilakukan oleh ITB, seperti Penerimaan Mahasiswa Baru, Pameran, Pasar Seni ITB, Wisuda, dan Dies Natalis.
Batalyon I/ITB juga mengadakan seminar-seminar dengan topic-topik yang sedang hangat di kalangan mahasiswa ITB, seperti Seminar dan Pameran Teknologi Hankam (SPTH), Seminar Entrepreneurship and Leadership, Peta Bakat, dan kegiatan umum lainnya. Serta Menwa juga ambil bagian dalam acara Bakti Sosial dan Bantuan Korban Bencana Alam.
Saat ini jumlah anggota sudah semakin meningkat dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, hal ini tercipata karena semakin dikenalnya Menwa di kalanagn mahasiswa serta berkurangnya antipati mahasiswa terhadap militer. Bahkan sekarang semakin sering terdengar mahasiswa ITB yang ingin melanjutkan jadi perwira karir.
Resimen Mahasiswa yang dulunya adalah Komponen cadangan Nasional sekarang menjadi Komponen Pendukung pertahanan nasional, sebagaimana termaktub dalam UU No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan dalam Buku Putih Departemen Pertahanan.
Tidak semua Unibersitas memiliki Menwa, saat ini di ITB Menwa dipertahankan sebagai salah satu unit. Para anggota Menwa di setiap kampus membentuk satuan, yang disebut Satuan. Sebagai salah satu unit kegiatan kemahasiswaan, komandan satuan melapor langsung kepada rektor/pimpinan perguruan tinggi.
Resimen Mahasiswa mampunyai janji yang harus diletakkan dalam hati serta direalisaikan dalam bentuk karya nyata di kehidupan para anggota, janji tersebut adalah Panca Dharma Satya yang berbunyi sebagi berikut:
Panca Dharma Satya
Resimen Mahasiswa Indonesia
- Kami adalah mahasiswa warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
- Kami adalah mahasiswa yang sadar akan tanggung jawab serta kehormatan akan pembelaan negara dan tidak kenal menyerah.
- Kami Putra Indonesia yang berjiwa ksatria dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membela kejujuran, kebenaran, dan keadilan.
- Kami adalah mahasiswa yang menjunjung tinggi nama dan kehormatan Garba Ilmiah dan sadar akan hari depan Bangsa dan Negara.
- Kami adalah mahasiswa yang memegang teguh disiplin lahir dan batin, percaya pada diri sendiri dan mengutamakan kepentingan Nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
SEMBOYAN
“Widya Castrena Dharmasiddha”
“Penyempurnaan pengabdian dengan menggunakan ilmu pengetahuan
dan ilmu keprajuritan “
Mahawarman ( Perisai yang Agung)
MAKNA LAMBANG
Bintang di kanan atas dihadapan burung garuda dengan sayap kanan 6 (enam) dan kiri 7 (tujuh), leher 59 dan ekor enam dengan warna kuning emas dan melirik ke sebelah kanan.
Di tengah-tengah di depan burung garuda terdapat simbul silang senjata pena dalam genggaman burung garuda dengan warna putih.
Pita yang melandasi dengan warna putih dengan tulisan ditengah warna merah
“ Widya Castrena Dharma Siddha”.
Perisai yang menjadi alas warna hitam.
-
Bintang di kanan berarti cita-cita yang luhur, baik dan benar.
-
- Bulu sayap berjumlah 13, ekor 6 dan leher 59 (13 Juni 1959 = tahun kelahiran resimen mahawarman).
- Perisai berarti sebagai komponen pertahanan Negara.
MAKNA SEMBILAN UNSUR LAMBANG
Perisai Segilima
Menggambarkan keteguhan sikap
Padi dan Kapas
Menggambarkan dasar bernegara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.
Bintang , Sayap Burung , Jangkar dan Lambang Polri
Resimen Mahasiswa berada di bawah naungan ketiga unsur angkatan dan Polri
Pena dan Senjata
Di dalam pengabdiannya, wira melakukan keselarasan antara ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan.
Buku Tulis
Tugas pokok setiap wira adalah mengembangkan ilmu pengetahuan, di samping melaksanakan tugas-tugas kemenwaan.
Semboyan : Widya Castrena Dharmasiddha
Di tiap provinsi di Indonesia, ada struktur yang memiliki mewadahi satuan-satuan di bawahnya, setiap provinsi dengan nama yang khas, yaitu :
Indra Pahlawan di Riau
Jayakarta di Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Mahabanten di Banten
Mahadarma di Timor Timur (belum dibubarkan hingga 10-Oktober-2004)
Mahadwiyudha di Bengkulu
Mahadana di Nusa Tenggara Timur
Mahadasa di Daerah Istimewa Aceh
Mahadipa di Jawa Tengah
Mahajani Nusa Tenggara Barat
Mahakarta Daerah Istimewa Yogyakarta
Mahaleo di Sulawesi Tenggara
Mahamaku di Ambon
Mahanata di Kalimantan Selatan
Mahapura di Kalimantan Barat
Maharatan di Lampung
Maharuyung di Sumatera Barat
Mahasamrat di Sulawesi Utara
Mahasena di Bali
Mahasurya di Jawa Timur
Mahatara di Sumatera Utara
Mahawarman di Jawa Barat
Mahawijaya di Sumatera Selatan
Mahawasih di Irian Jaya
Mulawarman di Kalimantan Timur
Pawana Cakti di Sulawesi Tengah
Sultan Thaha di Jambi
Wolter Monginsidi di Sulawesi Selatan
Untuk di Mahawarman (Jawa Barat) sendiri satuan-satuan yang ada diantaranya:
BATALYON I : ITB
BATALYON II : UNPAD
BATALYON III : UNPAR
BATALYON IV : (GABUNGAN UNIVERSITAS SWASTA)
TERDIRI DARI :
KOMPI A : UNIVERSITAS MARANATHA
KOMPI B : UNISBA
KOMPI C : UNINUS
KOMPI D : STHB
KOMPI E : UNPAS
KOMPI F : UNLA
KOMPI G : STHB
BATALYON V : TIDAK AKTIF
BATALYON VI : (GABUNGAN SEKOLAH-SEKOLAH TINGGI)
TERDIRI DARI
KOMPI STT TEKSTIL
KOMPI STIE YPKP
KOMPI STMIK BANDUNG
KOMPI STMIK AMIK BANDUNG
BATALYON VII : SURYA KENCANA
TERDIRI DARI :
KOMPI A : IPB
KOMPI B : UNIVERSITAS IBNU KHALDUN
KOMPI C : UNIVERSITAS PAKUAN
KOMPI D : UNIVERSITAS JUANDA
BATALYON VIII : (GABUNGAN DARI UNIVERSITAS SWASTA)
TERDIRI DARI :
KOMPI IKOPIN
KOMPI UNWIM
KOMPI UNSIL
BATALYON IX : BANTEN
BATALYON X : CIREBON
BATALYON XI : UPI
BATALYON XII : IPDN
KOMPI-KOMPI BS (BERDIRI SENDIRI) :
TERDIRI DARI :KOMPI BS IAIN SUNAN GUNUNG DJATI
KOMPI BS STKS
KOMPI BS UNJANI
Berdasarkan Buku Putih Dep. Han. Tahun 2003, keterangan mengenai jumlah anggota Menwa adalah sebagai berikut :
“…juga terdapat unsur Mahasiswa dan Alumni Mahasiswa yang sudah mendapatkan pelatihan dasar kemiliteran yang tersusun dalam organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa) dan Alumni Menwa. Hingga saat ini jumlah Menwa dan Alumni Menwa masing-masing sekitar 25.000 orang dan 62.000 orang.”
Untuk menjadi anggota Resimen Mahasiswa diperlukan persyaratan sebagai berikut :
1) Warga Negara Republik Indonesia
2) Sehat yang dinyatakan dengan keterangan dokter untuk mengikuti Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa.
3) Berkelakuan baik yang dinyatakan secara tertulis dari Polri setempat
4) Persetujuan Pimpinan Perguruan Tinggi yang bersangkutan
5) Pernyataan sukarela dan kesanggupan aktif minimal 2 tahun dalam Resimen Mahasiswa
6) Pernyataan ijin orang tua atau wali bagi yang berumur dibawah 21 tahun.
Ketika dibagi berdasarkan lokasi dan intensitas latihan, kegiatan Menwa dapat dibagi menjadi kegiatan outdoor dan class, serta rutin dan insidental (secara berurutan).
Pola pendidikan Menwa diadakan secara bertahap, bertingkat dan berjenjang. Pada dasarnya kegiatan-kegiatan tersebut (dapat disesuaikan dengan kebutuhan/keadaan satuan) adalah :
1. Pendidikan dan Pelatihan Dasar Militer
2. Pembinaan Kompi Remaja (Binkija)
3. Kursus Pelatih
4. Kursus Dinas Staf
Kegiatan Menwa dan kegiatan Akademik tidak saling bertentangan, hal ini karena tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar sesuai dengan bidang keahliannya. Nilai-nilai pendidikan yang didapat dalam pendidikan Menwa seperti disiplin waktu dan correct jika diimplementasikan dalam kehidupan nyata akan memberikan dampak positif. Lebih jauh lagi, semua manfaat yang didapat dari kegiatan Menwa bisa menjadi soft skills yang diperlukan seorang mahasiswa setelah mereka lulus dari kampus masing-masing dan menjalani pekerjaan/mata pencaharian.
Sudah banyak alumni yang membuktikan bahwa menjadi anggota Menwa yang aktif dapat menjadi salah satu aset kehidupan kelak. Alumni Batalyon I/ITB antara lain Harjanto Dhanutirto (ketua MWA ITB), Aifin Panigoro (Founder MEDCO), Akhmad Bukhari Saleh (MEDCO), Budiono Kartohadiprojo (Direktur GATRA dan beberapa perusahaan), Fadel Muhammad (Gubernur Provinsi Gorontalo), Priyo Pribadi S.(Direktur Asosiasi Pertambangan Indonesia), Yunus Sitomorang (calon legislatif), dan masih banyak lainnya yang kalo saya sebutkan satu-satu bakalan menuh-menuhin tulisan ini.
Untuk saya sendiri saat ini saya telah lulus dalam jenjang pendidikan yang disebutkan diatas dan sekarang sedang menbuat Dinas Staf dan Kursus Pelatih untuk angkatan yang lebih muda. Kegiatan lain yang pernah saya ikuti adalah Operasi Menembak di Paskas, PAM Wisuda, PAM Penerimaan Mahasiswa Baru, PAM SPMB, Menjadi instruktur anak-anak Sekolah Alam Bandung, Mengikuti Temu Alumni di Selabintana, Mengadakan Seminar Peta Bakat, Seminar Entrepreneurship and Leadership, Donor Darah dalam rangka ulang tahun Batalyon I/ITB serta menjadi delegasi Batalyon I/ITB memenuhi undangan Palapes Universiti Malaya di Malaysia dalam rangka Pentauliahan Pegawai Palapes ke 28, menjadi pelatih Diklatsar 2008, mengikuti Plant Tour ke Pabrik Gula Rajawali, Pupuk Kujang, dan Pabrik kertas Pindo Deli mengadakan operasi Rajawali. Selain itu juga banyak acara non formil yang diadakan oleh Batalyon I/ITB seperti malam komando, dan acara lainnya.
Walo kadang banyak teman yang memeprtnayakan apakah tidak bosan atau lelah ada di batalyon? Dan dengan mayoritas anggota yang laki-laki itu mengapa bisa saya merasa nyaman? Hahaha, mungkin karena saya sudah terbiasa berada di lingkungan cowok di jurusan ato juga di rumah. Lagipula kalo diliat track record dari sd-sma emang banyak juga temen cowok. Kadang rasa lelah pasti ada, tapi tetap berfikiran positif aja bahwa di balik kesusahan pasti ada kemudahan. Dan lagipula banyak hal menarik dan baru yang saya dapatkan dari Batayon I/ITB yang tidak saya temukan di organisasi lainnya yang saya ikuti.
Sampai saat ini manfaat yang saya rasakan secara langsung adalah tentang masalah keorganisasian Menwa yang baik dan teratur serta fasilitas yang saya dapatkan disana (pragmatis). Batalyon I/ITB sebagai unit memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan baik, contohnya secretariat unit yang strategis, memadai dan dilengkapi telepon, beberapa set computer yang bisa digunakan, motor dan mobil, peralatan latihan yang memadai untuk latihan outdor dan indoor, jaringan korps di seluruh Indonesia dan jaringan Alumni sejak tahun 1950-an. Memang Batalyon tidak punya segalanya, namun bisa dibilang fasilitas yang diberikan cukup lengkap bagi anggota dibandingkan dengan unit lain.
Selain itu saya juga dapat melihat sisi lain dari kemahasiswaan kampus,, yang saya katakana disini adalah yang mengadopsi sistem pendidikan militer yang notabene jarang disentuh oleh organisasi mahasiswa lainnya. Peran saya sebagai Kasie Administrasi dan Personalia juga memberikan saya pelajaran tentang dinamika watak manusia dan bagaimana cara menghadapinya. Dan juga saya jadi pemikiran orang-orang yang berbeda-beda didalam Batalyon I/ITB. Selain itu dengan slogan “Never Crack Under Pressure” yang benar-benar terasa pada saat saya mengalami benturan dalam hidup dan mencoba untuk berfikir positif dari benturan tersebut. Dan tak lupa keterampilan lapangan seperti PBB, Menembak, kedinasan staf, kepelatihan, cara mengeterr, Menyetir Mobil (walopun belum lancar), tali-temali, kesehatan lapangan, survey, cara menyelenggarakan kegiatan lapangan, dan yang lainnya. Itu semua yang bisa saya dapat hanya di Batalyon I/ITB.
Gimana, tertarik untuk masuk Batalyon I/ITB untuk belajar dan berkarya?
Langsung aja main ke Mako Batalyon I/ITB di samping GSG!!